Archive for the ‘Tips Fotografi’ Category

Melakukan pemotretan dari jendela pesawat selama dalam perjalanan merupakan sebuah keasikan tersendiri, karena pola awan atau cuaca yang akan terjadi sama sekali tidak bisa diprediksi oleh karena itu moment dan lokasi merupakan saat yang tidak bisa didapat 2 kali.

Foto foto berikut ini saya ambil saat melakukan perjalanan ke Bandung, karena posisi jendela saya duduk agak dekat ke sayap, seringkali susah untuk menghindarkan sayap pesawat masuk framesehingga akhir nya saya lebih banyak memasukkan sayap pesawat kedalam frame, agar kelihatan bahwa foto memang diambil dari jendela pesawat terbang. πŸ™‚

Ada beberapa tips yang bisa membantu kita mendapatkan foto yang lebih baik saat ingin memotret melalui jendela pesawat, antara lain :

1. Pastikan harus duduk di posisi paling pinggir dengan jendela pesawat terbang.

Hal ini tidak perlu dipertanyakan lagi, karena untuk mendapatkan pemandangan terbaik keluar tentunnya dengan posisi yang berada di samping jendela.

2. Manual atau Auto Fokus

Ada beberapa pendapat penggunaan manual atau auto fokus pada saat melakukan pemotretan saat berada dari dalam pesawat. Bagi yang menyukai penggunaan manual fokus adalah untuk menghindari miss fokus saat kita tengah membidik pada suatu titik, tapi saat melakukan pemotretan fokus bergeser karena kita berada di pesawat yang bergerak. Juga kadang fokus justru mengunci pada kaca jendela pesawat apalagi jika ada goresan atau kotoran yang menempel pada jendela pesawat tersebut dan juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencari fokus diluar jendela pesawat yang bergerak.

Tapi kalau saya pribadi tetap menggunakan auto fokus saat melakukan pemotretan dari pesawat terbang ini, kendala fokus justru mengunci pada kaca jendela pesawat tidak saya rasakan, saat melkukan pemotretan pada foto diatas kebetulan saya menggunakan lensa Nikon AF-S 18-105 VR. Untuk mengakali miss fokus, saya memprediksi arah gerak pesawat dan jika perlu memasukkan sayap pesawat kedalam frame, maka saya meletakkan fokus pada bagian sayap tersebut yang jaraknya statis dari posisi saya memotret. (lihat photo pertama dan ketiga)

3. Mode pada Body Camera

Saya pribadi menggunakan Mode Manual untuk pemotretan diatas, namun jika takut kehilangan moment bagus saya menyarankan menggunakan mode Apperture Priority; Mode A pada Nikon atau Av pada Canon.

4. Metering

Karena kontras cahaya yang sangat tinggi, saya memilih menggunakan spot metering. Hal ini dengan tujuan agar sensor kamera hanya mengukur cahaya dengan area yang kecil sesuai dengan titik fokus yang saya inginkan.

5. Gunakan Peredam Getaran

Walaupun speed yang digunakan termasuk tinggi, saya menyarankan tetap mengaktifkan peredam getaran pada lensa. Pada lensa Nikon istilah nya adalah VR (Vibration Reduction) sedangkan pada Canon adalah IS (Image Stabiliser). Hal ini termasuk penting untuk mengurangi shake jika suatu saat ada bagian yang gelap dari awan yang dijadikan patokan metering yang menyebabkan shutter speed menjadi rendah.

6. Apperture

Untuk hal ini saya menggunakan bukaan antara 11 hingga 16, agar semua bagian masih terlihat tajam dan cahaya yang masuk cukup banyak untuk speed yang tidak terlalu rendah.

Demikian share saya kali ini untuk pemotretan dari dalam pesawat udara, kebetulan yang saya lakukan adalah waktu perjalanan siang hari, mungkin jika ada rekan rekan lain berkenan untuk share tip dan trik untuk pemoteran malam.

Salam


——————————————————————-
www.purnawanhadi.com
Twitter : Pelukis Cahaya
FB Fan Page : Pelukis Cahaya

Jika sebuah Point of Interest (POI) atau sebuah objek yang sama, dengan pencahayaan dan exposure yang sama tetapi di foto oleh dua fotografer yang berbeda hasilnya pasti gak akan persis sama πŸ™‚ Salah satu faktor penentu biasanya terletak pada komposisi. Komposi ini dihasilkan dari pengambilan sudut pandang dan posisi si Fotografer saat melakukan pemotretan. Kali ini saya akan share mengenai sebuah aturan komposisi dasar yang sering disebut aturan “Rule of Thrid”.

Aturan komposisi ini cukup sederhana, siapapun bisa mengaplikasikannya dan tidak membutuhkan kamera dengan fitur yang canggih dan mahal untuk mengikuti cara komposisi ini.

Komposisi aturan sepertiga

Rule of Thirds membagi foto menjadi sembilan bagian yang sama dengan dua garis ruang horisontal yang sama serta dua garis ruang vertikal yang sama pula, jadi sekarang kita melihat view finder memiliki 9 persegi kecil dan bukan satu persegi besar.

Empat Garis beserta titik titik pertemuan antara garis tersebut diidentifikasikan merupakan bagian atau tempat dari Point of Interest dan tentunya itu adalah dimana fotografer sebaiknya menempatkan subyek (disepanjang garis atau di titik persimpangan) untuk menciptakan foto-foto yang memiliki keseimbangan. Sebuah cara mudah untuk mengingatnya adalah: Rule of Third ini menghindari penempatan subyek di persegi bagian tengah.

Kesulitan yang terjadi saat kita membidik melalui View Finder adalah garis Rule of Third ini tidak ada tersedia dalam jendela bidik kamera, kalaupun ada merupakan sebuah fitur tambahan. Untuk jelasnya berikut sebuah gambaran jika dilihat dari View Finder DSLR Nikon D90. Garis hitam merupakan Nikon Gridline (bisa dimunculkan dengan mengubah settingan pada View Finder) dan garis Biru adalah garis imaginer Rule of Third.

Rule Of Third
Sumber image dari Wesley Tang

Kita bisa menjadikan patokan titik titik fokus yang diberi tanda merah sebagai titik bantu peletakan garis imaginer Rule of Third.

Berikut beberapa contoh foto saya dengan penempatan berdasarkan Komposisi Rule of Third :

Rule Of Third
Rule Of Third
Rule Of Third
Rule Of Third
 Sumber foto :

 

Beberapa fotografer hebat mungkin mendapatkan komposisi bagus secara alami, tetapi pada umumnya mereka tidak mendapatkannya dalam waktu singkat serta membutuhkan banyak sekali latihan dan akhirnya menjadi sebuah kebiasaan. Ada sebuah cara untuk mendisiplinkan diri dalam hal komposisi, ajukan pada diri sendiri dua pertanyaan ini sebelum menekan tombol Shutter:
  1. Apa yang akan menjadi pusat perhatian dari foto Saya?
  2. Dibagian persegi yang manakah akan saya tempatkan POI tersebut? (Tentunya bukan di bagian tengah)
Jawab terlebih dahulu 2 pertanyaan diatas, dan kemudian lakukan framing, dalam waktu dekat semoga kita semua akan menyadari telah menemukan satu bentuk peningkatan dalam dunia fotografi. 


Salam,

——————————————————————-
www.purnawanhadi.com
Twitter : Pelukis Cahaya
FB Fan Page : Pelukis Cahaya

Para rekan rekan Fotografer sekalian pasti pernah yang namanya ikutan acara Hunting Photo bareng, mungkin skala jumlah peserta nya saja yang berbeda beda. Hunting Photo bareng ini biasanya diadakan oleh suatu kepanitiaan dalam rangka bagian dari acara lain yang lebih besar, seperti ulang tahun sebuah perkumpulan atau organisasi, kegiatan sosial seperti Hunting Photo untuk amal dan kegiatan peringatan hari besar atau hal lainnya. Bisa juga Hunting Photo rame rame ini dilakukan dalam sebuah pelatihan fotografi dimana setelah penyajian materi yang berbentuk teori kemudian ada sesi Hunting Photo untuk mempraktekkan teori yang telah dipelajari.

Bali Photographer for Humanity

Foto diatas saya ambil saat mengikuti acara sosial yang diakan oleh Fotografer di Bali yang bertujuan untuk mengumpulkan dana buat salah seorang seniman pemain Drama Tradisional Gong Bali yang bernama Pak Dollar yang saat itu tengah menderita sakit.

Dari berbagai kegiatan Hunting Photo ini banyak manfaat yang bisa diambil dibalik esensi atau tujuan pelaksanaan kegiatan tersebut, diantaranya menjalin silaturahmi antara sesama Fotografer, bertemu dan berbagi cerita dengan Fotografer senior yang tentunya akan menambah ilmu bagi yang mengikuti pembicaraan dengan sesepuh Fotografio yang hadir tersebut.

Berikut beberapa Tips dan Trik dari saya untuk rekan rekan Fotografer yang ingin mengikuti sebuah kegiatan Hunting Photo, terutama yang ada menggunakan model :

1. Respect the other.

Ini adalah Tips pertama dan yang paling utama jika mengikuti kegiatan Hunting Photo, biasanya kondisi ideal perbandingan jumlah Fotografer dan Model dalam kegiatan Hunting Photo adalah 1 : 5, artinya satu orang model akan dipotret oleh 5 orang fotografer. Namun kondisi ideal ini seringkali tidak terjadi pada saat Hunting Photo untuk kegiatan amal atau sejenis nya yang diikuti oleh banyak peserta. Oleh karena itu kita harus “Respect The Other”, dalam artian Respect pada Fotografer lain, Respect pada si Model dan Respect pada Panitia acara.

Jadi jangan marah kalo lagi asik asiknya membidik model tiba tiba muncul fotografer lain yang melintas dibalakang si model atau malah ada tampilan “kepala” fotografer lain didepan lensa… hehehe.. musti sabar dan kalau memang mau ngomong, tegurlah dengan bahasa yang sopan. Karena setiap orang saat itu tentunya ingin mengambil sudut yang terbagus ditengah ramenya Fotografer lain.

2. Bawa perlengkapan secukupnya

Nah ini dia yang sering kejadian, si Fotografer nya bawa perlengkapan sangat banyak mulai dari berbagai jenis lensa, sampai bawa beberapa Body kamera, belum lagi equipment lain seperti tripod, lightstand, flash sampai Softbox… Hunting Photo tidak sama kondisinya dengan pemotretan yang dilakukan dengan satu model dan satu Fotografer, jika anda meletakkan lightstand di kiri kanan model mungkin anda akan mengganggu sudut pandang dan framing dari peserta lain dan membawa perlengkapan yang berlebihan tentunya akan merepotkan sekali, karena ruang gerak yang bisanya sangat sempit dan kerepotan serta resiko lain saat pengawasan terhadap gear menjadi berkurang.

3. Bawa lensa dengan bukaan diafragma terbesar.

Kalau kondisi Hunting Photo dengan jumlah peserta yang cukup banyak, tentunya kita tidak bisa sesuka nya mengatur lighting dan pose model. Oleh karena itu dibutuhkan kecepatan dan ketepatan saat mengambil foto sang model. Untuk pencahayaan bisa diakali dengan mengetahui posisi cahaya yang ada saat itu (available light) seperti cahaya matahari, atau lampu kalau ada dan memaksimalkannya. Dengan bukaan diagfragma yang cukup besar seperti F1,4 atau F1,8 tentunya akan lebih mendapatkan speed yang tinggi dan bokeh yang bagus.

Sebenarnya bokeh dalam hal ini bukan suatu patokan nilai bagus tidak nya sebuah foto, namun dalam kondisi Hunting Photo yang pesertanya cukup banyak, bokeh akan sangat berguna memisahkan POI yaitu sang model dengan latar belakang dengan membuat latar menjadi lebih blur…  karena dengan background yang cukup blur akan meminimalisir adanya gangguan pada latar belakang seperti ada nya peserta lain yang tak sengaja masuk frame dan lainnya.

4. Gunakan Lensa Zoom

Hal ini saya perhatikan banyak terjadi pada beberapa rekan Fotografer, karena ingin mendapatkan bokeh yang bagus dan ketajaman yang baik, sering dibawa Lensa Fix untuk Hunting. Namun saat hunting rata rata mengeluh karena gak bisa melakukan komposisi yang bagus dan kalau maju terlalu dekat ke model merasa gak enak  karena menutupi sudut pandang rekan Fotografer yang lain… serba salah ya πŸ™‚ oleh karena itu gunakanlah lensa zoom.

Nah, ada yang lain yang ingin menambahkan ? πŸ™‚

Salam,

——————————————————————-
www.purnawanhadi.com
Twitter : Pelukis Cahaya
FB Fan Page : Pelukis Cahaya