Archive for the ‘Kamera’ Category

Little Planet

Posted: September 25, 2013 in Kamera

littlePhoto By : Purnawan Hadi at www.purnawanhadi.com

Advertisements

Simulator Kamera DSLR

Posted: March 7, 2013 in Kamera

Jika saat ini Anda sedang baru belajar fotografi dengan kamera DSLR, mungkin dengan mendaftar di kursus fotografi ternama mungkin adalah cara terbaik. Tetapi harga yang relatif mahal bisa membuat Anda berfikir ulang jika kantongnya pas-pasan. Atau dengan secara mandiri, membaca buku manual yang selalu disertakan di paket pembelian juga bisa menjadi cara jitu untuk mengoperasikan kamera baru Anda. Tetapi lagi-lagi, bahasa yang terlalu teknis kadang terlalu membingungkan. Cara lain pun bisa ditempuh yaitu membeli buku-buku fotografi yang banyak beredar di toko buku atau ikut hunting bersama. Namun, ada satu cara yang sangat instant dan relatif mudah dipahami yaitu dengan memakai aplikasi simulator kamera DSLR.

Berikut sebuah program CameraSim, startup software fotografi yang didirikan Jon Arnold, merilis sebuah simulator unik bernama The SLR Camera Simulator. Sesuai namanya, kita bisa belajar menggunakan setingan kamera seperti mengatur Speed, F, ISO, jarak pemotretan, cuaca, white balance dan lain-lain. Persis seperti menu kamera DSLR sungguhan, namun karena ini hanya simulasi, kita tidak benar-benar memegang kamera, melainkan memegang mouse di layar komputer Anda. Aplikasi ini bisa diakses dari web browser yang  support Adobe Flash. Setiap hasil pengaturan Anda bisa segera dilihat hasilnya. Penasaran? coba saja simulatornya di bagian akhir tulisan ini.

Disamping ini adalah screen capture tampilan simulator nya. Saya mendapatkan screenshots yang sudah ditranslate ke Bahasa Indonesia, namun bisa saja tampilan di komputer Anda akan muncul dalam bahasa versi aslinya tergantung settingan browser atau perangkat yang digunakan. Untuk lebih dapat membantu berikut saya coba jelaskan secara ringkas keterangan fungsi pada panel silmulator kamera tersebut.


Mari kita lihat satu persatu bagian dari simularot ini :

1. Tampilan Layar LCD.
a. Titik Fokus.

Tampilan LCD dengan 9 titik fokus ini biasanya dipunyai oleh Brand Canon mulai Entry Level hingga medium. Pada Body Kamera sungguhan, titik titik tersebut merupakan titik dimana kita meletakkan fokus objek sesuai keinginan.



b. Indikator


Ada 4 bagian indikator pada bagian bawah LCD yang didesain menyerupai tampilan LCD kamera DSLR saat diintip melalui View Finder, bagian paling kiri menyatakan angka kecepatan shutter (Speed), disebelahnya menyatakan angka bukaan Diagfragma (F), disebelahnya lagi dengan indikator mulai -2 hingga +2 merupakan indikator exposure dimana garis indikator bisa bergeser ke kiri atau kekanan, pergseran ke kiri berarti gambar yang dihasilkan akan bertambah gelap (under exposure) dan kekanan akan bertambah terang (over exposure), nilai ideal ada ditengah tengah pada angka nol (0), terakhir paling kanan adalah nilai ISO yang menunjukkan sensitifitas sensor pada kamera dalam menangkap cahaya.


2. Panel instrument


Pencahayaan
Menu ini membantu untuk mendapatkan kondisi seperti real di lapangan kita memotret menggunakan DSLR, pada body kamera menu ini mirip dengan pengaturan White Balance. Coba geser slider pencahayaan, maka akan terlihat di LCD indikatornya :

a. Dim Indoors / Ruangan Redup : indikator Candle Light
b. Bright Indoors /Ruangan Terang : indikator Tungsteen
c. Mendung : indikator Claudy
d. Berawan sebagian : indikator Claudy + Daylight
e. Agak cerah dan cerah : indikator Daylight.
Jika Anda memilih tombol Prioritas Bukaan dan Prioritas Rana (akan saya jelaskan dibawah), maka saat menggeser slider secara real time posisi “Bukaan” dan “Rana” juga akan bergerak.

Jarak
Menunjukkan estimasi jarak kamera ke objek, silahkan geser slider untuk mengubah jarak.

Panjang Fokus
Ini merupakan panjang fokus kamera yang sama dengan zooming pada lensa kamera.

Mode Kamera
1. Prioritas Bukaan, pilihan pada kamera adalah Mode A (Nikon) atau Av (Canon)
2. Prioritas Rana, pilihan pada kamera adalah Mode S (Nikon) atau Tv (Canon)
3. Manual, pilihan kamera pada Mode M (Nikon / Canon)

Tripod
Pada simulator ini juga memiliki menu, seandainya pada saat pemotretan Anda menggunakan Tripod.

ISO
Dengan menggeser slider, Anda dapat memilih ISO yang akan digunakan

Bukaan
Menunjukkan besarnya diafragma pada lensa dengan nilai f antara f/2,8 hingga f/22

Rana
Menunjukkan nilai kecepatan shutter (shutter speed) pemotretan dengan nilai 1″ hingga 1/4000 sec


Nah, setelah memahami fungsi fungsi panel tersebut dan mengaturnya, silahkan tekan tombol 
!

Sekarang, silahkan Andamelakukan silmulasi pemotretan dengan DSLR tanpa takut kehabisan Shutter Count 🙂
Catatan:
Simulator kamera DSLR di atas adalah aplikasi berbasis web, sehingga disarankan diakses dari komputer dengan browser yang telah mendukung Flash dan koneksi internet yang memadai. Jika ingin simulator yang tidak memerlukan akses internet, anda bisa membeli aplikasi desktopnya (Mac & Windows). Sedangkan untuk akses dari perangkat bergerak, bisa download aplikasi mobile CameraSim for iPhone atau CameraSIM for iPad.

Jika ada kesulitan dalam tampilan simulator di blog ini, silahkan langsung buka link CameraSim ini.

Salam,


——————————————————————-
www.purnawanhadi.com
Twitter : Pelukis Cahaya
FB Fan Page : Pelukis Cahaya

6 Musuh alami kamera

Posted: December 18, 2012 in Kamera

Merawat dan memelihara kamera digital sebetulnya tidak perlu berlebihaan asalkan kita mengetahui beberapa hal yang menjadi musuh alami yang dalam hitungan detik dapat memperpendek umur sebuah kamera.
  
Ini dia 6 musuh alami yang mematikan dan beberapa tips penting yang harus di hindari:

1. Air / Embun
 Ada banyak cara dimana uap air dapat merusak dengan cepat serta mengakhiri kehidupan kamera. Selalu gunakan tali pengaman kamera atau pergelangan tangan untuk mencegah kamera jatuh ke air seperti sungai, danau, laut, kolam renang atau bak mandi selama sesi pemotretan. Untuk mencegah kerusakan akibat kondensasi bisa dicegah dengan cara menaruh beberapa bungkus silica gel dalam tas kamera. Silica Gel ini cukup efisien untuk menyerap semua kelembaban yang terbentuk saat kita bergerak dari zona suhu satu ke zona suhu yang lain dan apabila berada di lingkungan yang bersuhu lembab, sering sering lah membersihkan kamera.


2. Debu

Ini dia satu musuh alami kamera digital. Debu bisa menjadi perusak utama ketika menempel pada bagian dalam kamera. Sensor gambar adalah salah satu wilayah yang mudah rusak oleh debu. Saat sedang bepergian, jaga kamera dalam kantong yang tertutup rapat, dan jangan lupa untuk sering dibersihkan dengan Sensor Cleaner.

3. Garam
Pantai adalah tempat favorit fotografer terutama para landscaper karena memiliki pemandangan yang indah, tetapi hati-hati tempat ini juga berbahaya untuk kamera. Garam yang berasal dari laut yang sudah mengering dan terhembus angin bisa masuk ke kamera dan menyebabkan berbagai macam masalah termasuk korosi. Bila kamera sedang tidak digunakan, simpan saja dalam tas, dan harap-hati-hati saat sedang mengganti lensa, membuka kartu memori atau baterai.

4. Pasir
Yang satu ini bahkan lebih berbahaya dari debu. Partikel-partikel pasir yang kasar bisa menyebabkan kerusakan yang cukup parah pada bagian kamera yang sering bergerak.

Gunakan sikat pembersih khusus untuk menghilangkan partikel-partikel pasir. Hindari membuka kamera digital di tempat-tempat berpasir yang berangin atau dimana banyak orang yang berlari, melompat, dan melempar bola.

5. Tersentak dan tertubruk
Untuk melindungi perangkat fotografi dari tersentak dan tertubruk karena hal ini dapat menyebabkan kamera mengalami kerusakan parah. Bila sedang tidak digunakan, simpan kamera digital  di tas kamera.
   
6. Krim dan lotion
Krim dan lotion seperti sunscreen, lotion nyamuk, salep anti alergi, dan sebagainya memiliki bahan kimia yang dapat membahayakan kamera . Jauhkan bahan kimia dari peralatan, dan jika  sedang menggunakan krim dan lation tersebut, cucilah tangan terlebih dahulu sebelum menyentuh kamera.

Jangan sampai kamera kesayangan Anda bernasib seperti pada foto di postingan ini 🙂

    Sumber :  PictureCorrect.com

    Salam.

    <!– google_ad_client = "ca-pub-5678122142148206"; /* adv */ google_ad_slot = "4752550436"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 60; //–> ——————————————————————-
    www.purnawanhadi.com
    Twitter : Pelukis Cahaya
    FB Fan Page : Pelukis Cahaya

    Entry Level DSLR, Nikon vs Canon

    Posted: December 15, 2012 in Kamera
    Bagi pemula yang baru akan menggunakan atau membeli kamera DSLR tentunya ada pertanyaan besar, mau beli yang Merk / Brand apa ? Jenis / Type apa ? dan Harga yang  berapaan ya ? Pertanyaan sejenis ini selalu muncul walaupun sudah dapat masukan dari kanan kiri, teman, saudara atau teman nya teman… dan rekomendasi Merk / Brand biasanya berdasarkan apa yang dipakai oleh si pemberi rekomendasi. Iya dong, karena itu yang mereka gunakan. 🙂

    Selain itu juga ada yang menyarankan membeli Kamera DSRL berdasarkan Merk / Brand apa yang kebanyakan digunakan oleh teman atau komunitas kita, saya gak menyalahkan hal ini karena biasanya sebagai pemula cenderung ingin cepat bisa secara instant dan males buka buku manual kamera, dan akhirnya jalan pintasnya adalah bertanya. Tentunya yang paling mudah untuk bertanya ke pemakai Merk / Brand yang sama bukan ? 🙂 Walau gak selalu semua mau menjawab pertanyaan tersebut tentunya, dan belajar dengan hanya mengandalkan bertanya saja tanpa mau mempelajari bukanlah cara yang baik di Photography.
    Juga salah satu alasan yang menurut saya agak konyol untuk membeli Merk / Brand yang sejenis dengan kebanyakan yang dimiliki oleh teman lain adalah agar bisa saling pinjam meminjam atau tukar meukar lensa maupun peralatan lain. Padahal belum tentu yang memberi saran itu mau minjamin peralatan kamera milik nya.. 😀
    Ok, sekarang kita coba melihat perbandingan Head to Head dari 2 Merk / Brand yang saat ini paling banyak digunakan yaitu Canon dan Nikon, bukan berarti mengecilkan Merk / Brand lain, tapi ini hanya mencoba membuat suatu analisa sebelum melakukan perbandingan. Untuk lengkapnya bisa mencoba perbandingan kamera ini pada situs  snapsort.com.
    Untuk sekedar informasi, kamera DSLR dibagi menjadi 3 kategori yaitu Entry Level (pemula), Semi Pro- User dan Profesional User. Nah, saat ini kita coba bandingkan kelas Entry Level yang paling banyak peminat nya. Kelas kamera DSLR Entry Level ini paling mudah ditandai dengan posisi pengaturan Mode di sebelah kanan dan tanpa ada layar informasi tambahan di bagian atas body. Yang jadi perbandingan dalam pembahasan kali ini dipihak Canon adalah 1100D dan di Nikon adalah D3100. Mungkin ada yang akan bertanya, kenapa bukan Nikon D3200 ? hal ini karena saya ingin melakukan perbandingan Head to Head, karena Nikon D3200 merupakan keluaran terbaru dengan penyempurnaan yang juga baru pada saat ini dan tentunya hasilnya nanti tidak akan berimbang.
    Berikut hasil perbandingan dengan fasilitas Compare pada snapsort.com :

    Dari perbandingan Head to Head diatas kita bisa menyesuaikan dengan kebutuhan yang kita inginkan dari sebuah DSLR Entry Level. Beberapa point diatas bukanlah sebuah penilaian mutlak, namun suatu hal yang dijadikan indikator dalam menilai sebuah kamera, dan kesimpulannya adalah :

    Dan jika dilihat dari penilaian tersebut perbedaan point nya tidak begitu jauh, bagi pemilih Merk / Brand Canon mungkin cocok untuk pemula yang menjadikan fotografi sebagai hobby, karena keunggulannya pada pemakaian baterai, lebih ringan dan yang paling utama biasanya karena sudah memiliki Built-in auto fokus di body kamera, hal ini tidak dimiliki oleh Merk / Brand Nikon pada kamera DSLR Entry Levelnya.

    Untuk pemilih Merk / Brand Nikon sepertinya disukai oleh pemula dalam fotografi yang tidak hanya sekedar ingin bisa jepret jepret menggunakan DSLR, namun ingin lebih mendalami fotografi. Hal ini terlihat dari keunggulan pada jumlah titik auto fokus nya yang berjumlah 11 titik dan setiap titik tersebut bisa digunakan untuk menilai metering cahaya. Kelemahannya yang bayak dilihat adalah tidak memiliki Built-in auto fokus pada body kamera,sehingga harus mengguakan lensa yang memiliki auto fokus, namun dibalik itu kecepatan auto fokus pada lensa kit nya serta ketajamannya sangat bagus dari kompetitornya.

    Nah dengan analisa tersebut mungkin cukup membantu bagi yang ingin memiliki DSLR untuk pertama kali dan bisa melihat kebutuhan serta untuk apa kedepannya kamera yang akan dibeli. Namun yang paling penting adalah, apapun Merk / Brand kameranya semua kembali kepada kita sebagai pemakai, karena bagaimanapun juga kamera adalah sebuah alat yang mendukung visi, bukan sebaliknya.

    Salam,


    ——————————————————————-
    www.purnawanhadi.com
    Twitter : Pelukis Cahaya
    FB Fan Page : Pelukis Cahaya

     

    Buy my work

    Live-view pada kamera DSLR

    Posted: August 4, 2011 in Kamera

    Sepertinya fitur live-view pada kamera DSLR sekarang ini sudah menjadi sebuah tambahan yang dianggap perlu, dan dijadikan sebagai penarik minat konsumen. Bagi yang terbiasa memotret memakai kamera digital (termasuk kamera pada ponsel) tentu sudah terbiasa mengambil gambar mengandalkan preview pada layar LCD, sementara bagi yang sudah terbiasa dengan kamera SLR memotret memakai SLR sudah identik dengan mengintip jendela bidik (viewfinder), bukannya melihat melalui layar LCD.

    Namun dengan semakin murahnya harga kamera DSLR, semakin banyak pula pemakai kamera digital saku yang beralih ke DSLR, dan menemui kesulitan saat harus memotret tanpa bantuan layar LCD layaknya kamera saku. Banyak juga yang tidak habis pikir bagaimana mungkin kamera digital SLR yang nota-bene punya layar LCD kok layarnya tidak bisa dipakai untuk melihat preview foto yang akan diambil.

    Keuntungan dari fitur ive-view ini adalah fotografer dapat mengevaluasi gambar yang akan diambil, termasuk warna, ketajaman, fokus dan eksposure. Selain untuk keperluan tersebut, live-view juga dipakai untuk memotret pada sudut yang sulit seperti memotret bunga sambil jongkok atau memotret overhead (posisi kamera diangkat diatas kepala-seperti pada saat konser musik). Meski demikian ada juga efek negatif dari pemakaian fitur ini, yaitu akan menguras daya baterai karena LCD yang terus menyala.

    Prinsip kerja live-view sebenarnya adalah bagaimana membuat gambar yang tertangkap lensa dapat ditampilkan di layar LCD sebelum shutter ditekan. Untuk itu, faktor yang sangat perlu dalam prinsip live-wiew adalah komponen sensor. Masalahnya, terdapat perbedaan konsep dalam mendesain sensor untuk live-view ini, dimana ada yang memanfaatkan sensor kamera (baik CCD atau CMOS) untuk proses live-view (untuk efisiensi dan menekan biaya produksi), ada juga yang menyediakan sensor terpisah sehingga sensor utama hanya dipakai saat shutter ditekan saja. Apalagi ada anggapan bahwa saat kamera mengaktifkan fitur live-view akan membuat sensor terus-menerus terpapar oleh cahaya yang berpotensi membuat usia sensor berkurang.

    Fitur live-view ini sebenarnya sudah diperkenalkan jauh sebelumnya oleh Olympus, sekaligus menjadi pionir dalam urusan live-view. Olympus merancang sistem ini pertama kali pada DSLR E-330 dengan memakai dua sensor yaitu sensor utama dan sensor khusus live-view, yang pada saat itu membuat sistem begini menjadi mahal dan rumit. Dengan mengevaluasi untung rugi dari konsep pertamanya, akhirnya Olympus menyederhanakan sistem live-view berikutnya menjadi hanya satu sensor. Tak lama berselang sistem live-view ini diadopsi dan disempurnakan oleh Panasonic (Lumix LC-10), Nikon (D-300) dan Canon (EOS 40D, EOS 450D) meski dengan beberapa perbedaan minor. Saat ini Sony mengumumkan metode live-viewnya yang justru memakai dua sensor seperti Olympus generasi pertama, namun dengan klaim menjadi sistem live-view tercepat saat ini.

    Auto fokus pada kamera DSLR memiliki keunggulan dibanding kamera saku karena dilakukan memakai proses phase detect dibanding kamera saku yang memakai contrast-detect. Keunggulan utamanya adalah dalam hal kecepatan dan ketepatan mencari fokus. Dengan mengimplementasikan sistem live-view pada kamera DSLR, konsekuensi utamanya adalah proses auto fokus akan menjadi lebih rumit, yang berdampak pada penurunan kecepatan auto fokus itu sendiri, terutama pada sistem live-view dengan sensor tunggal. Ceritanya begini, karena sensor tunggal pada DSLR yang memakai mode live-view harus terus menerima cahaya dari lensa, maka cermin yang berada di depan sensor harus diturunkan (mirror-down). Efek turunnya cermin ini adalah sistem auto fokus kamera menjadi tidak berfungsi. Untuk itu, saat kamera harus mencari fokus (saat tombol shutter ditekan dan ditahan) maka cermin terpaksa harus kembali diangkat (mirror-up) dan otomatis menutupi sensor sehingga proses live-view akan terputus sesaat. Naik turunnya cermin setiap mencari fokus inilah yang membuat rumit dan menyita waktu saat memotret dengan memakai fitur live-view.

    Penggunaan fitur live-view ini membawa pengalaman tersendiri bagi pemakai kamera DSLR modern. Beberapa manfaat yang didapat dengan fitur ini semestinya dapat menambah kreativitas dalam memotret bahkan memberi keleluasaan memotret dari sudut-sudut ekstrim. Namun perlu dicatat bahwa fitur ini tidak ada kaitannya dengan kualitas gambar yang dibuat oleh kamera DSLR, melainkan hanya sebagai fitur pelengkap yang akan menjadi tren. Banyak kamera DSLR yang tidak dilengkapi fitur ini dan para pemakainya pun tidak pernah mempermasalahkannya seperti saya sendiri yang saat ini menggunakan Nikon D3000, namun bila memang kamera DSLR yang kita miliki telah dilengkapi fitur live-view tentu akan menjadi suatu nilai tambah tersendiri. Namun sayangnya, meski secara teknis sangat memungkinkan, hingga saat ini belum ada satu kamera DSLR pun yang mengoptimalkan fitur live-view ini menjadi fitur movie. Kita tunggu produsen mana yang akan memulai mengoptimalkan fitur live-view ini menjadi fitur movie.

    Sumber utama : http://gaptek28.wordpress.com/

    Prosumer atau DSLR ?

    Posted: August 3, 2011 in Kamera

    Saya pernah mengalami situasi dengan pertanyaan diatas saat masih menggunakan kamera Prosumer LUMIX FZ20 dan ingin membeli DSLR setelah mencoba beberapa kali menggunakan DSLR teman lain. Rupanya memang dilema ini banyak dialami oleh para penggemar motret-memotret yang merasa sudah mulai memahami dasar fotografi digital dan ingin melangkah lebih jauh mengeksplorasi dunia fotografi. Biasanya mereka sudah pernah memakai kamera saku (point and shoot) dan menyadari bahwa kamera jenis ini banyak mengalami keterbatasan akibat semua settingnya yang serba otomatis. Saat selanjutnya mereka ingin membeli kamera lagi yang lebih pro/advanced (dan sebaiknya memang demikian), tibalah mereka pada dilema ini.

    Kamera prosumer/bridge camera/kamera semi-pro, berawal dari solusi tengah-tengah antara kamera saku dan DSLR. Tidak jelas siapa yang pertama memperkenalkan istilah-istilah ini, bahkan kriteria sebuah kamera layak dianggap sebagai kamera prosumer juga sebetulnya tidak jelas bahkan cenderung bias. Saat awal mula kamera prosumer diperkenalkan, harga kamera DSLR saat itu amat tinggi. Tuntutan akan kebutuhan fotografi profesional dengan budget terjangkau membuat kamera prosumer kala itu menjadi laris manis (meski waktu itu harga prosumer tetap saja masih cukup mahal). Namun kondisi saat ini sudah banyak berubah. Semakin murahnya harga kamera DSLR sekarang membuat produsen kamera mulai mengurangi produksi jajaran prosumernya dan lebih fokus untuk bersaing di pasar DSLR.

    Kategori yang termasuk dalam kamera prosumer adalah dengan spesifikasi sebagai berikut:

    • mempunyai pilihan setelan eksposure lengkap (program, shutter priority, aperture priority, manual)
    • setelan penting lainnya juga harus bisa diatur secara manual (fokus, ISO, white balance, flash, kompresi JPEG dsb)
    • memiliki kualitas lensa yang baik (kontras tinggi, ketajaman pada seluruh rentang zoom baik, distorsi rendah, bukaan lensa maksimal besar saat wide atau tele)
    • memiliki sensor lebih besar (minimal 1/1,8 inci, umumnya 2/3 inci) sehingga didapat dynamic range dan kinerja low-light yang lebih baik
    • tersedia pilihan format file selain JPEG, misalnya TIFF dan RAW
    • menyediakan keleluasaan untuk menambah asesori lensa (filter, wide/tele converter dsb)
    • memiliki kinerja lebih baik daripada kamera saku (kecepatan fokus, shutter-lag, shot-to-shot, burst mode dsb)
    • memiliki fitur penting lain : stabilizer, flash hot shoe, AF assist light, bracketing, viewfinder dengan diopter adjustment.

    Kini dengan semakin turunnya harga kamera DSLR, kamera prosumer terus tertekan dan berevolusi menjadi beberapa generasi baru seperti kamera super-zoom yang kini panjang lensanya telah mencapai rekor 20x zoom optik. Hanya saja fakta sekarang ternyata tidak lagi mudah dijumpai kamera prosumer terkini yang benar-benar memberi kualitas hasil foto yang memuaskan (setidaknya dalam kaca mata profesional). Mengapa? Utamanya karena tuntutan pasar akan harga jual prosumer yang harus sedikit dibawah kamera DSLR termurah membuat penurunan kualitas dari prosumer itu sendiri. Kalau DSLR termurah saja sekarang sudah berada di rentang 5 jutaan, prosumer harus lebih murah dari itu (padahal dahulu harga prosumer ada yang sampai 10 jutaan). Hingga akhirnya prosumer masa kini lebih cenderung menjadi kamera point-and-shoot biasa namun berfitur lengkap dan dapat dioperasikan secara manual.

    Saat kita membeli kamera digital SLR yang pertama, berarti kita telah membeli sebuah sistem untuk jangka panjang. Hal ini karena lensa aksesoris dan lensa kamera digital SLR merek tertentu, sebagian besar tidak bisa dipakai di kamera merk lain.

    Meski demikian sebelum benar-benar mengambil keputusan dalam memilih, ada baiknya kita juga mengetahui keterbatasan dari kamera prosumer. Setidaknya, meski akhirnya seseorang telah menjatuhkan pilihannya pada kamera prosumer, dia tidak harus kecewa pada pilihannya. Inilah beberapa kompromi yang harus diterima :

    • Meski mampu memberi hasil foto yang baik, prosumer tetap terganjal oleh keterbatasan seperti kualitas dan rentang lensanya, ukuran sensornya yang kecil dan kualitas A/D converternya. Hasilnya, kualitas hasil foto kamera prosumer tidak bisa sebaik kamera DSLR, dan akan semakin kalah bila dipakai pada kondisi kurang cahaya (saat memakai nilai ISO tinggi).
    • Jangan berharap kecepatan auto fokus yang tinggi pada prosumer. Sistem auto fokus DSLR menggunakan metoda phase detect yang jauh lebih unggul dibanding kamera biasa yang memakai contrast detect. Untuk mengunci fokus pada objek foto yang selalu bergerak tentu menjadi hal yang ‘enteng’ buat kamera DSLR, namun tidak demikian apabila memakai kamera prosumer. Belum lagi pada prosumer kemampuan auto fokusnya akan melambat pada saat mencari fokus pada obyek yang agak gelap atau saat memakai zoom maksimal.
    • Sebagaimana kinerja auto fokus, kinerja shutter dari kamera prosumer juga tidak seresponsif kamera DSLR. Meski semakin disempurnakan, waktu jeda antara tiap pemotretan (shot-to-shot) dan delay saat shutter ditekan dan kamera mengambil gambar (shutter-lag) pada kamera prosumer tetap kalah dengan kamera DSLR. Hal ini berpengaruh pada kemungkinan kehilangan momen-momen penting karena ‘keterlambatan’ ini.
    • Terkadang membidik melalui viewfinder pada prosumer menjadi masalah tersendiri terutama untuk memotret objek yang bergerak atau saat kurang cahaya. Hal ini karena viewfinder pada prosumer umumnya menggunakan LCD, bandingkan dengan viewfinder pada DSLR yang menerima gambar langsung dari lensa. Apalagi DSLR kelas atas memakai viewfinder prisma yang lebih terang, bahkan DSLR Full Frame memiliki viewfinder yang lebih luas dari DSLR biasa berkat sensornya yang lebih besar.
    • Keterbatasan kreativitas cepat atau lambat akan dirasakan pemakai kamera prosumer. Bagi yang ingin membuat foto dengan background blur (bokeh) akan merindukan lensa SLR bukaan besar. Bagi yang ingin membuat foto dengan efek cahaya dari beberapa lampu kilat akan merindukan sistem creative-lighting dari beberapa flash yang dikendalikan secara wireless.

    Setidaknya inilah beberapa kompromi yang akan diterima bagi pemakai kamera prosumer. Bila memang poin-poin diatas tidak menjadi masalah buat anda, prosumer dapat menjadi pilihan anda. Sedikit tips, baiknya pilihlah prosumer yang lensanya bermula dari 28mm (atau bahkan kurang) sehingga bisa didapat foto-foto wideangle yang dramatis.
    Namun apabila ternyata kompromi diatas tadi tidak dapat diterima, artinya jawabannya jelas. Anda membutuhkan kamera DSLR. Well, kenapa tidak? Go for it.. kamera DSLR sekarang sudah sangat murah dan fiturnya makin canggih dengan sistem live-view dan sistem anti debu/dust reduction.

    Untuk membantu analisa untuk yang baru pertama kali memutuskan untuk membei kamera DSLR bisa dibaca pada Entry Level DSLR, Nikon vs Canon.

    Sumber utama : http://gaptek28.wordpress.com/ dan http://www.infofotografi.com/