Prosumer atau DSLR ?

Posted: August 3, 2011 in Kamera

Saya pernah mengalami situasi dengan pertanyaan diatas saat masih menggunakan kamera Prosumer LUMIX FZ20 dan ingin membeli DSLR setelah mencoba beberapa kali menggunakan DSLR teman lain. Rupanya memang dilema ini banyak dialami oleh para penggemar motret-memotret yang merasa sudah mulai memahami dasar fotografi digital dan ingin melangkah lebih jauh mengeksplorasi dunia fotografi. Biasanya mereka sudah pernah memakai kamera saku (point and shoot) dan menyadari bahwa kamera jenis ini banyak mengalami keterbatasan akibat semua settingnya yang serba otomatis. Saat selanjutnya mereka ingin membeli kamera lagi yang lebih pro/advanced (dan sebaiknya memang demikian), tibalah mereka pada dilema ini.

Kamera prosumer/bridge camera/kamera semi-pro, berawal dari solusi tengah-tengah antara kamera saku dan DSLR. Tidak jelas siapa yang pertama memperkenalkan istilah-istilah ini, bahkan kriteria sebuah kamera layak dianggap sebagai kamera prosumer juga sebetulnya tidak jelas bahkan cenderung bias. Saat awal mula kamera prosumer diperkenalkan, harga kamera DSLR saat itu amat tinggi. Tuntutan akan kebutuhan fotografi profesional dengan budget terjangkau membuat kamera prosumer kala itu menjadi laris manis (meski waktu itu harga prosumer tetap saja masih cukup mahal). Namun kondisi saat ini sudah banyak berubah. Semakin murahnya harga kamera DSLR sekarang membuat produsen kamera mulai mengurangi produksi jajaran prosumernya dan lebih fokus untuk bersaing di pasar DSLR.

Kategori yang termasuk dalam kamera prosumer adalah dengan spesifikasi sebagai berikut:

  • mempunyai pilihan setelan eksposure lengkap (program, shutter priority, aperture priority, manual)
  • setelan penting lainnya juga harus bisa diatur secara manual (fokus, ISO, white balance, flash, kompresi JPEG dsb)
  • memiliki kualitas lensa yang baik (kontras tinggi, ketajaman pada seluruh rentang zoom baik, distorsi rendah, bukaan lensa maksimal besar saat wide atau tele)
  • memiliki sensor lebih besar (minimal 1/1,8 inci, umumnya 2/3 inci) sehingga didapat dynamic range dan kinerja low-light yang lebih baik
  • tersedia pilihan format file selain JPEG, misalnya TIFF dan RAW
  • menyediakan keleluasaan untuk menambah asesori lensa (filter, wide/tele converter dsb)
  • memiliki kinerja lebih baik daripada kamera saku (kecepatan fokus, shutter-lag, shot-to-shot, burst mode dsb)
  • memiliki fitur penting lain : stabilizer, flash hot shoe, AF assist light, bracketing, viewfinder dengan diopter adjustment.

Kini dengan semakin turunnya harga kamera DSLR, kamera prosumer terus tertekan dan berevolusi menjadi beberapa generasi baru seperti kamera super-zoom yang kini panjang lensanya telah mencapai rekor 20x zoom optik. Hanya saja fakta sekarang ternyata tidak lagi mudah dijumpai kamera prosumer terkini yang benar-benar memberi kualitas hasil foto yang memuaskan (setidaknya dalam kaca mata profesional). Mengapa? Utamanya karena tuntutan pasar akan harga jual prosumer yang harus sedikit dibawah kamera DSLR termurah membuat penurunan kualitas dari prosumer itu sendiri. Kalau DSLR termurah saja sekarang sudah berada di rentang 5 jutaan, prosumer harus lebih murah dari itu (padahal dahulu harga prosumer ada yang sampai 10 jutaan). Hingga akhirnya prosumer masa kini lebih cenderung menjadi kamera point-and-shoot biasa namun berfitur lengkap dan dapat dioperasikan secara manual.

Saat kita membeli kamera digital SLR yang pertama, berarti kita telah membeli sebuah sistem untuk jangka panjang. Hal ini karena lensa aksesoris dan lensa kamera digital SLR merek tertentu, sebagian besar tidak bisa dipakai di kamera merk lain.

Meski demikian sebelum benar-benar mengambil keputusan dalam memilih, ada baiknya kita juga mengetahui keterbatasan dari kamera prosumer. Setidaknya, meski akhirnya seseorang telah menjatuhkan pilihannya pada kamera prosumer, dia tidak harus kecewa pada pilihannya. Inilah beberapa kompromi yang harus diterima :

  • Meski mampu memberi hasil foto yang baik, prosumer tetap terganjal oleh keterbatasan seperti kualitas dan rentang lensanya, ukuran sensornya yang kecil dan kualitas A/D converternya. Hasilnya, kualitas hasil foto kamera prosumer tidak bisa sebaik kamera DSLR, dan akan semakin kalah bila dipakai pada kondisi kurang cahaya (saat memakai nilai ISO tinggi).
  • Jangan berharap kecepatan auto fokus yang tinggi pada prosumer. Sistem auto fokus DSLR menggunakan metoda phase detect yang jauh lebih unggul dibanding kamera biasa yang memakai contrast detect. Untuk mengunci fokus pada objek foto yang selalu bergerak tentu menjadi hal yang ‘enteng’ buat kamera DSLR, namun tidak demikian apabila memakai kamera prosumer. Belum lagi pada prosumer kemampuan auto fokusnya akan melambat pada saat mencari fokus pada obyek yang agak gelap atau saat memakai zoom maksimal.
  • Sebagaimana kinerja auto fokus, kinerja shutter dari kamera prosumer juga tidak seresponsif kamera DSLR. Meski semakin disempurnakan, waktu jeda antara tiap pemotretan (shot-to-shot) dan delay saat shutter ditekan dan kamera mengambil gambar (shutter-lag) pada kamera prosumer tetap kalah dengan kamera DSLR. Hal ini berpengaruh pada kemungkinan kehilangan momen-momen penting karena ‘keterlambatan’ ini.
  • Terkadang membidik melalui viewfinder pada prosumer menjadi masalah tersendiri terutama untuk memotret objek yang bergerak atau saat kurang cahaya. Hal ini karena viewfinder pada prosumer umumnya menggunakan LCD, bandingkan dengan viewfinder pada DSLR yang menerima gambar langsung dari lensa. Apalagi DSLR kelas atas memakai viewfinder prisma yang lebih terang, bahkan DSLR Full Frame memiliki viewfinder yang lebih luas dari DSLR biasa berkat sensornya yang lebih besar.
  • Keterbatasan kreativitas cepat atau lambat akan dirasakan pemakai kamera prosumer. Bagi yang ingin membuat foto dengan background blur (bokeh) akan merindukan lensa SLR bukaan besar. Bagi yang ingin membuat foto dengan efek cahaya dari beberapa lampu kilat akan merindukan sistem creative-lighting dari beberapa flash yang dikendalikan secara wireless.

Setidaknya inilah beberapa kompromi yang akan diterima bagi pemakai kamera prosumer. Bila memang poin-poin diatas tidak menjadi masalah buat anda, prosumer dapat menjadi pilihan anda. Sedikit tips, baiknya pilihlah prosumer yang lensanya bermula dari 28mm (atau bahkan kurang) sehingga bisa didapat foto-foto wideangle yang dramatis.
Namun apabila ternyata kompromi diatas tadi tidak dapat diterima, artinya jawabannya jelas. Anda membutuhkan kamera DSLR. Well, kenapa tidak? Go for it.. kamera DSLR sekarang sudah sangat murah dan fiturnya makin canggih dengan sistem live-view dan sistem anti debu/dust reduction.

Untuk membantu analisa untuk yang baru pertama kali memutuskan untuk membei kamera DSLR bisa dibaca pada Entry Level DSLR, Nikon vs Canon.

Sumber utama : http://gaptek28.wordpress.com/ dan http://www.infofotografi.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s