Pembagian Wilayah Vietnam Utara dan Selatan

Posted: February 12, 2011 in War of the world

Sekalipun posisi Vietnam berada di atas angin dalam perundingan di Geneva, namun situasi dan kondisi politik internasional sudah berubah. Perang Korea masih kuat membekas dan tetap mengancam, sementara Perang Dingin antara Blok Barat dengan Timur pun semakin menajam. Akibatnya kompromi sulit dilakukan, dan penyelasaian sementara yang dapat dicapai adalah Viet Minh boleh menguasai wilayah Vietnam sebelah utara garis paralel ke-17, sedangkan Perancis di selatan garis tersebut. Persetujuan Geneva ini disepakati Juli 1954.

Mengapa Ho Chi Minh yang cukup berpengaruh di seluruh Vietnam hanya memperoleh separuh dari negerinya? Hal ini disebabkan para peserta konferensi lainnya tidak memberinya alternatif, bahkan berusaha keras memblokirnya untuk menguasai seluruh Vietnam. Terutama AS lewat Menlu John Foster Dulles yang amat antikomunis, mati-matian mencegah seluruh Vietnam dipegang oleh Ho, yang lebih dilihat sebagai komunis daripada patriot Vietnam. Bahkan begitu perjanjian ditandatangani, AS di bawah Presiden Dwight Eisenhower langsung memperkokoh posisi Vietnam Selatan dengan mengucurkan berbagai bantuan ekonomi maupun militer. AS ingin menjadikan Vietsel sebagai basis terdepan untuk melawan ekspansi komunis di Asteng, di samping mendirikan pakta pertahanan Asia Tenggara atau SEATO.

AS ketika itu amat percaya akan apa yang disebut “Teori Domino”, yang pada intinya meyakini jika Vietnam Utara sampai menguasai Selatan, maka satu persatu negara sekitarnya akan jatuh ke tangan komunis. Hal ini seperti kartu domino yang berjajar diberdirikan, pasti ambruk satu persatu dengan cepat manakala salah satu dari kartu itu jatuh dan menimpa yang lainnya. Karena kecemasan akan kemungkinan jatuhnya Vietsel, maka AS yang melihat kepemimpinan Raja Bao Dai tidak begitu meyakinkan, diam-diam mencari pemimpin baru bagi Vietsel. Tokoh baru yang ditemukan adalah pada diri Ngo Dinh Diem, mantan PM-nya Bao Dai.

Untuk menjadikan Ngo sebagai penguasa baru Vietsel, maka tahun 1955 dilakukan referendum, untuk memilih monarki di bawah Raja Bao Dai ataukah republik yang dipimpin Presiden Ngo Dinh Diem. Referendum ini dimenangkan Ngo yang kemudian dilantik sebagai presiden. Pada awalnya kepemimpinannya memberi harapan, dengan perbaikan ekonomi dan sosial rakyat Vietsel, termasuk penanganan terhadap ratusan ribu pengungsi dari wilayah Utara. Namun makin lama terasa bahwa pemimpin barn ini semakin otoriter, kaku, sulit berkompromi, sehingga politik di Vietsel semakin bergejolak, termasuk dari kaum Budhis yang merasa tersisihkan.

Sementara itu keinginan Ho Chi Minh untuk menyatukan Vietnam yang terbelah, juga tetap membara. Dia pernah mendekati Ngo Dinh Diem untuk membicarakan kemungkinan pemilu, namun Saigon menolak. Para kader Viet Minh di Vietsel pun mulai bergerak. Mereka yang menyebut diri Viet Cong (VC) mulai melakukan aksi bersenjata di Delta Mekong seraya mengharap Hanoi segera membantu upaya reunifikasi Vietnam. Bantuan itu `resmi’ datang tahun 1959, ketika Utara menyerukan perjuangan bersenjata di Selatan yang akan dibantu dengan personel maupun logistik dan Utara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s