To smoke is human, to smoke cigars is divine

Posted: November 10, 2010 in the road

”Jangan salah, pencerutu itu nggak menghirup asap sampai ke dalam paru-paru. Asap itu hanya di mulut dan seperti dikumur-kumur,” hal itu yang pernah saya denger beberapa tahun yang lalu dari seorang teman, saat saya mulai belajar ngisap cerutu. Cerutu pada dasarnya emang terlihat lebih berkelas dan mahal dari rokok biasa, namun kalau mau menghisap cerutu hanya buat gaya gayaan saja mending gak usah deh, karena jika mau gaya gayaan saja untuk sebatang harga nya bisa sampai satu jutaan… sangat gak baik buat kesehatan kantong. Sementara kalau kita mau nyigar, istilah keren buat ngisap cerutu dengan mengutamakan rasa, cobalah pilih dari yang lokal dan pasti harganya juga lebih terjangkau.

Yang benar, pencerutu tidak menarik dalam-dalam asapnya. Cukup sampai di mulutnya. Oleh karena itu pencerutu tidak sampai ketagihan seperti halnya perokok. Lazimnya, pencerutu mengisap untuk enjoyment. Bagi yang ingin stop merokok, biasanya mereka transfer ke cerutu dulu, sehari 1 atau 2 stick. Biasanya akan berhasil. Bercerutu itu paling-paling 2-3 kali sehari. Atau bahkan seminggu 2-3 kali. Kesannya memang wah, tapi orang tidak kecanduan.

Perbedaan yang paling banyak ditemui di antara para penikmat cerutu dan rokok tentunya adalah kelas penikmatnya. Rokok, dengan berbagai variasi (dengan cengkeh atau tidak, dengan filter atau tidak, dengan menthol, dengan tambahan rasa, atau tidak) dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Tidak dengan cerutu yang memberikan kesan mewah dan classy kepada penikmatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s