Sobat

Posted: October 9, 2010 in Death end story

Sobat, gak terasa hampir 4 tahun waktu telah berlalu… Saat itu aku benar benar termangu dan tak percaya, saat tangisan keluarga mu mengantarkan mu ke tempat untuk beristirahat yang terakhir kalinya, saat malam sebelumnya engkau meninggalkan kehidupan ini dengan segala cerita cerita nya.

Masa kecil dan remaja kita tak jauh berbeda, kenakalan demi kenakalan adalah bagian dari hari hari, pernah ku dengar ungkapan orang tua tua di lingkungan kita tumbuh tentang mu, katanya engkau seperti kucing yang bernyawa sembilan. Memang hal tersebut ada benarnya, karena kuingat sewaktu tawuran demi tawuran yang engkau lalui, semuanya nyaris berakhir dengan kematianmu… Pernah engkau pulang dengan kening luka memanjang disabet golok, dengan kondisi tidak sadar… Teriakan kakak perempuan mu bagai memecah langit, namun seminggu setelah itu engkau sudah bisa lagi nongkrong di warung bakso sambil menggoda cewek cewek yang kebetulan pulang kerja dari Mall dekat rumah.

Aku juga masih ingat ketika engkau akhirnya dipaksa menikah gara gara menghamili pacar mu yang baru tamat SMA, dengan penuh semangat aku meminjam mobil orang tua ku untuk mengantarkan mu ke rumah pengantin wanita, dan engkau dengan berwibawa malah menasehatiku agar jangan mengikuti langkah mu.

Saat anak mu sudah lahir, julukan nyawa sembilan masih belum jauh dari dirimu. Apa sih kegiatan yang kau lakukan yang tidak menyerempet bahaya ? kebut kebutan dijalan raya, jadi agen judi buntut di komplek perumahan, masih sesekali ikut tawuran membela hal hal yang terkadang menurut ku sangat sepele. Namun yang paling aku banggakan dari engkau adalah rasa setia kawan dan harga dirimu yang selalu kau junjung tinggi.

Aku juga ingat saat sakit mu, badan mu yang sudah kurus menjadi bertambah ceking. Pernah waktu itu aku mengantarmu untuk pergi berobat ke dokter spesialis penyakit dalam, kulihat wajah mu tetap begitu tegar dan berusaha selalu senyum. Aku gak menyangka itu adalah saat saat terakhirmu, karena teringat kata orang tua tentang engkau yang bernyawa sembilan.

Malam itu aku masih dengar suara batuk mu yang makin hari makin parah, aku malah sempat ngomong pada saudaramu untuk memaksamu rawat inap atau memeriksakan diri lagi ke rumah sakit, sebelum segalanya jadi terlambat… Tapi kata mereka engkau begitu keras kepala tidak mau dibawa lagi kerumah sakit atau dokter, hingga pagi harinya kudengar berita kepergiannmu.

Semoga kau tenang dan damai sobat ku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s