Kazegatana

Posted: October 4, 2010 in the immortal of conscience

Sudah banyak yang menanyakan pada saya, kenapa sih pake nama “Kazegatana” ? banyak komentar yang bilang sok ke jepang-jepang an, atau yang paling ekstrim malah bilang, asal bikin nama tapi gak tahu artinya.. hehehe… Barusan kepikiran, kenapa gak saya nulis aja tentang Kazegatana.

Kazegatana ini saya ambil terinspirasi dari cerita Jepang karangan Ichirou Yukiyama dengan judul yang sama, bukan bermaksud sok pake nama samurai atau jepang, tapi karena ceritanya memang menarik. Cerita nya begini, ini saya ambil dari review bukunya saja agar lebih enak dibaca…

Pada zaman feodal Jepang, perang sering berkecamuk di antara para daimyou yang berebut kekuasaan dan wilayah. Banyak kelompok yang memanfaatkan kemelut itu untuk menindas rakyat dan mengeruk keuntungan. Salah satunya adalah gerombolan perampok Chigatana yang bersarang di Lembah Togoruchi dan merampok saudagar-saudagar yang lewat.

Berbagai pasukan dikirim untuk membasmi para perampok itu. Namun, mereka semua gagal, bahkan tertumpas habis, karena meremehkan kemampuan gerombolan itu. Masyarakat semakin putus asa untuk membebaskan diri dari ancaman Chigatana.

Muncullah seorang pemuda, Akazawa, yang meskipun hanya rakyat biasa bertekad melenyapkan gerombolan Chigatana. Akazawa dan sahabat-sahabatnya membentuk sebuah kelompok rahasia yang diberi nama Kazegatana: “Pedang Angin”. Nama itu diambil dari nyanyian masa kecil Akazawa dan sahabat-sahabatnya ketika bermain pedang. Dengan disemangati rahasia syair Kazegatana, kelompok ini berjuang menumpas gerombolan Chigatana, meskipun menghadapi kekuatan yang tak seimbang ….

“Bukankah ada pedang yang lebih bagus dan lebih hebat dari ranting ini? Mengapa kalian tidak menggunakan itu saja?”

“Pedang apa?” tanya ketiga anak itu penasaran.

“Kazegatana,” jawab sang ayah. “Kazegatana adalah pedang yang terbuat dari angin. Ia menebas tanpa suara dan membelah tanpa wujud, lalu menghilang, seolah tak pernah ada.”

Kazegatana Kazegatana
Menebas tanpa suara
Membelah tanpa wujud
Lalu menghilang, seolah tak pernah ada

Sumber : Review Buku

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s