TUHAN PUNYA RENCANA LAIN

Posted: September 1, 2010 in tale from the others

“Akhirnya ada juga bis yang lewat, nak. Kita pulang ya nak.” Namun bis itu lewat begitu saja. “Ya Tuhan, kok tega-teganya gak mau berhenti. Sabar ya nak, mudah-mudahan akan ada lagi bis yang lewat,” ujar seorang ibu kepada anak bayinya.

Bayi lelaki berumur sebelas bulan itu hanya tersenyum-senyum mendengar perkataan ibunya. Kembali ibu itu melambaikan tangannya kepada bis yang lewat, namun tetap saja bis itu tidak mau berhenti. Bayi itu tertawa. “Nak, nak…kok bisa-bisanya kamu tertawa.” Bayi lucu itu tidak mau tahu teriknya mentari saat itu.Akhirnya ada juga bis berbaik hati mau berhenti. “Cepet Bu, cepet naik !” ujar kondektur. “Ya Tuhan, bis nya penuh nak, tapi ga apa-apa, yang penting kita bisa pulang ya nak.”
“Jogja, Jogja.. !” teriak sang kondektur mencari penumpang. “Lha wong sudah penuh sesak begini kok masih cari penumpang !” ujar ibu itu.
Tiba-tiba bayi lelaki itu menangis. “Aduh nak, jangan nangis toh nak” bujuk sang ibu sambil mengelus-elus kepala bayi itu.
Tapi bayi itu makin keras tangisnya. Suasana panas saat itu makin membuat para penumpang tidak nyaman, apalagi dengan kondisi penuh sesaknya manusia di dalam bis tersebut.
“Bu, anak nya bisa disuruh diam ndak sih ?” ujar salah seorang penumpang di sebelahnya. “Maaf pak, maaf,” jawab ibu itu.
“Huh, udah bayar mahal-mahal, tapi kok kaya begini,” salah seorang lagi marah-marah.
“Saya ini mau tidur, disuruh diam bisa nggak sih bayi itu !” ujar seorang ibu gemuk di belakangnya.
“Hey, anak siapa itu, kok brisik begitu, tambah bikin pusing saja !” teriak pak sopir.
“Suruh turun saja pak sopir !” teriak penumpang belakang.
“Iya, turuni saja. Wong sudah sesak begini kok,” tambah yang lain.
“Bapak-bapak, ibu-ibu, siapa yang setuju kalau ibu ini disuruh turun?” tanya salah seorang penumpang sambil berdiri. Semua terdiam.
“Suruh turun saja !” salah seorang kakek berkata.
“Ibu turun saja disini. Cari bis yang lain saja,” kondektur berkata.
“Maaf bapak-bapak ibu-ibu, kalau anak saya ini mengganggu, tapi anak ini kan masih kecil, belum mengerti apa-apa. Tolonglah kami, tolong….” pinta ibu itu dengan iba.
“Wah, gak bisa bu, anak ibu ini makin kenceng saja nangisnya. Disini banyak penumpang yang mau istirahat,” tambah pak kondektur.
Dengan tidak hormat, akhirnya ibu dan anak itu dipaksa turun dari bis.
“Ya Tuhan, kok ya ada saja manusia manusia seperti itu. Kok ya tidak kasihan sama anak bayi ini. Nak, nak…., kamu kok bikin susah ibumu saja toh !”
Dengan tertatih, ibu itu mencoba menyetop mobil yang lewat sambil berjalan beberapa kilo meter. Dan sampai akhirnya sebuah mobil berhenti dan pengendaranya berkata: ”Lho, ibu mau kemana, sudah hampir gelap begini kok masih di jalanan ? Kasihan anaknya.”
“Maaf, dik. Boleh ibu menumpang sampai kota,” ibu itu memohon. “Oh tentu tentu…. Masuk saja bu !” jawab sang pengendara mobil, seorang pemuda.
“Ternyata masih ada anak muda baik hati seperti adik ini ya…,” kata ibu itu dengan perasaan lega. Si bayi itu tertawa-tawa ketika mereka menumpang di mobil itu.
“Ibu ini sebenarnya mau kemana toh?” tanya sang pemuda. “Saya mau ke Jogja, mau pulang dik,” jawab si ibu.
“Wah, kebetulan kalau begitu, saya juga mau kerumah kakek yang ada di Jogja. Kalau begitu saya antar ibu sekalian sampai rumah, kasihan bayi ini, tapi saya masih bingung, kenapa kok bisa-bisanya ibu ini sendirian bersama bayi ini di pinggir jalan tadi ?”
“Oh, saya juga bingung dik, kok ya ada orang yang tega menurunkan saya di tengah jalan, gara-gara anak saya ini terus-terusan menangis,” jawab ibu itu.
“Masa sih bu ? Wah, kalau begitu kebangetan itu bu,” ujar si pemuda.
Beberapa jam kemudian.
“Wah, ada apa ya…kok gak biasa-biasanya macet begini. Mas mas, aqua nya satu mas. Mas, ada apa toh mas, kok bisa macet begini ?” tanya anak muda itu kepada penjual minuman.
“Wah iya mas, katanya ada kecelakaan bis di depan sana,” jawab penjual minuman.
“Oh, ini toh bisnya, ya Tuhan bisnya hangus terbakar. Rupanya tabrakan dengan truk besar,” desah anak muda itu.
Prit prit prit……..seorang polisi sedang mengatur jalannya arus lalu lintas yang sedang macet itu.
“Pak ada yang selamat pak ?” tanya pemuda itu
“Kasihan dik, semua penumpang dan sopirnya tewas,” jawab sang polisi.
“Ya Tuhan, aku bersyukur. Nak….untung kamu tadi di bis menangis terus.” kata sang ibu.
“Lho ibu kok malah bersyukur, padahal ada musibah seperti ini…” tanya pemuda itu bengong.
“Dik, ini lho dik, bis yang ibu naiki tadi, dimana tadi ibu dipaksa turun di tengah perjalanan….”
“Hah bener bu ? Ya Tuhan kalau begitu anak ibu ini sudah menyelamatkan nyawa ibu. Tuhan telah menuntun ibu, lewat anak ibu ini…..”
“Ya dik, apa jadinya kalau saya dan anak saya ini masih menumpang bis itu. Ya Tuhan aku bersyukur padaMU, ternyata ENGKAU telah menyelamatkan nyawa kami….”

~ Sesungguhnya Tuhan itu Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik untuk hambanya. Karena itu pandai-pandailah mencari hikmah di balik sebuah musibah ~

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s