Mencocokkan Atlantis dengan Indonesia

Posted: July 6, 2010 in history - another story of our world

TEMPO Interaktif, Jakarta – Atlantis telah memikat banyak peneliti dan mengilhami para seniman dari berbagai zaman. Misalnya saja Francis Bacon dengan esainya The New Atlantis (1627), Isaac Newton yang mengkaji beragam mitologi yang berkaitan dengan Atlantis (The Chronology of the Ancient Kingdoms Amended, 1728), ilmuwan Nazi Heinrich Himmler yang mencari moyangnya hingga ke Tibet pada 1938, hingga Walt Disney dengan animasinya Atlantis: The Lost Empire (2001).

Sejak pertama kali diungkapkan oleh filsuf Yunani, Plato (429–347 Sebelum Masehi), pada sekitar 2.460 tahun yang lalu dalam karya dialoginya Timaeus dan Critias, Atlantis tetap menjadi misteri. Apakah Atlantis itu memang ada atau hanya negeri rekaan Plato belaka?

Arysio Nunes do Santos melalui bukunya, Atlantis: The Lost Continent Finally Found – The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization – Indonesia Ternyata Tempat Lahir Peradaban Dunia, memastikan Atlantis bukan fiksi. Bahkan ia menyimpulkan bahwa lokasi benua yang hilang itu sesungguhnya berada di wilayah Indonesia.

Memang, sejak akhir abad ke-19, para peneliti membuat hipotesis lokasi Atlantis. Sedikitnya ada 30 lokasi tersebar di penjuru dunia yang mengklaim sebagai lokasi Atlantis. Di antaranya Siprus, Malta, Kreta, Santorini, dan Sisilia di dekat laut Mediterania. Lokasi lain adalah di kawasan Samudra Atlantik, seperti Kepulauan Canary dan Laut Utara, serta wilayah Segitiga Bermuda di kawasan Pasifik dan Paparan Sunda (Indonesia) di kawasan Samudra Hindia.

Santos sampai pada kesimpulan itu setelah mengkaji selama 30 tahun dengan mencocokkan ciri-ciri “pulau” (nesos) Atlantis yang diungkapkan Plato dengan kondisi Indonesia. Menurut Santos, tak kurang 30 kecocokan ciri antara Atlantis menurut Plato dan kondisi Indonesia.Misalnya, berada di wilayah tropis yang selalu panas meskipun di Zaman Es. Penuh dengan segala jenis keindahan dan kekayaan: daratan-daratan yang luas dan ladang-ladang yang indah, lembah dan gunung; batu permata dan berbagai jenis logam, kayu-kayu wangi, wewangian, dan bahan celup yang tinggi mutunya, sungai-sungai, danau-danau, dan irigasi yang melimpah; pertanian yang produktif dengan dua kali panen per tahun; istana bertabur emas, tembok perak, dan benteng; gajah dan segala jenis binatang buas.

Pengkajian Santos ini menggunakan pendekatan tradisi-tradisi suci, naskah kuno, dan mitos-mitos dari banyak bangsa, seperti Yunani, Romawi, Mesir, Mesopotamia, Funisia, India-Amerika, Hindu, Buddha, dan Yahudi-Kristen. Lalu, dia melakukan pelacakan ke belakang, mencari data ilmiah yang mendukung dan menjelaskan tradisi kuno tersebut.

Di sinilah persoalan muncul, data ilmiah yang menjadi rujukan Arysio ternyata dengan mudah dipatahkan oleh kalangan ilmuwan, misalnya dari disiplin arkeologi dan geologi. Seperti terungkap dalam acara seminar nasional bertajuk “Indonesia – Atlantis yang Sesungguhnya”, yang diselenggarakan penerbit Ufuk Publishing House di Museum Indonesia Taman Mini Indonesia Indonesia, 20 Februari lalu.

Harry Truman Simanjuntak, arkeolog dari LIPI, yang menjadi salah satu pembahas, mengatakan klaim Santos bahwa penduduk Paparan Sunda pada akhir zaman es (Pleistosen) memiliki peradaban yang tinggi tidak memiliki bukti. Pada periode 11.600 tahun yang lalu, kata Harry, ras yang menghuni wilayah ini adalah Australomelanesoid. Ia merupakan manusia modern awal yang menghuni gua-gua dan menggunakan perkakas dari batu serta hidup dari mengumpulkan dan meramu bahan makanan.

Sementara itu, menurut Santos, yang meyakini betul kebenaran Plato, orang Atlantis itu adalah induk dari semua peradaban di dunia. Ketika Paparan Sunda tenggelam, mereka yang selamat bermigrasi ke berbagai penjuru dunia, seperti ke Asia Tenggara, Cina, Polinesia, Amerika, dan Timur Dekat. Mereka sudah mampu bercocok tanam, mengolah bahan tambang menjadi logam mulia, dapat membangun istana, tembok, dan benteng, serta memiliki seni budaya yang tinggi.

Keraguan juga datang dari Awang H. Satyana, geolog senior di BP Migas. Menurut dia, klaim Santos bahwa Paparan Sunda (daratan yang menyatukan Sumatera, Jawa, Kalimantan) itu tenggelam karena letusan Gunung Krakatau yang mendatangkan tsunami setinggi 130 meter dan dan mencairkan es di kutub selatan juga tidak memiliki data ilmiah pendukung.

Letusan gunung, kata Awang, tidak mungkin melelehkan es di kutub. Malahan, yang paling mungkin adalah perubahan iklim seperti yang terjadi setelah Gunung Tambora meletus pada 1815. Abu yang dimuntahkan gunung itu sangat tebal sehingga menutupi atmosfer dan menghalangi sinar matahari. Akibatnya, suhu menjadi turun dan membuat iklim menjadi dingin, bahkan di Eropa kala itu ada julukan the year without summer.

Sementara itu, tidak ada publikasi penelitian yang mengkonfirmasi adanya letusan Krakatau pada 11.600 tahun yang lalu. Menurut Awang, letusan paling purba dari Krakatau yang terlacak oleh geologi saat ini adalah pada 416 Masehi.

Namun, dalam pandangan budayawan Radhar Panca Dahana, tesis Santos yang menyebutkan bangsa yang mendiami Paparan Sunda memiliki peradaban yang tinggi cukup masuk akal. Radhar mengutip pernyataan Nobelis Rabindranath Tagore, yang marah ketika ditawari melihat “Indonesos” atau India Jauh saat berkunjung ke Jawa pada 1920-an. Menurut Tagore, apa yang dilihatnya bukanlah India, melainkan Jawa yang jauh berbeda dari India.

Bukti bahwa nenek moyang kita adalah pelaut besar dan pembuat perahu yang hebat, kata Radhar, bisa dilihat pada relief di Candi Borobudur. Perahu bercadik yang tergambar di situ kemudian ditiru oleh bangsa Eropa. Pada seribu tahun yang lalu, kata Radhar, ras Austronesia mampu berlayar sampai ke Haiti di Pasifik.

Di balik kontroversinya, kehadiran buku yang diklaim penerbitnya sebagai nasional best seller (telah dicetak 10 ribu kopi) ini merupakan berkah bagi bangsa Indonesia. Betapa tidak, ini merupakan promosi gratis dari penulis asing atas keelokan, keunikan, dan kekayaan sumber daya alam, dan keberanekaan seni budaya Nusantara.

Selain itu, buku ini bisa menjadi aspirasi bagi pembaca Indonesia untuk berbangga akan Indonesia. Dari rasa cinta terhadap Tanah Air itu diharapkan tumbuh rasa memiliki, yang membangkitkan rasa ingin tahu yang mendalam mengenai asal-usul bangsa ini.

Santos juga mengundang para peneliti, para Atlantiolog, untuk menjadikan kawasan ini sebagai tempat penelitian. “Atlantis sampai saat ini tidak ditemukan karena mereka mencarinya di tempat yang salah,” tulis Santos, yang wafat dua bulan setelah bukunya ini terbit pada 2005.

DODDY HIDAYAT

Judul: Atlantis: The Lost Continent Finally Found – The Definitive Localization of Plato’s Civilization
(Indonesia Ternyata Tempat Lahir Peradaban Dunia)

Penulis: Prof Arysio Nunes dos Santos
Penerjemah: Hikmah Ubaidillah
Penerbit: PT Ufuk Publishing House
Edisi: III, Februari 2010
Tebal: iv+676 halaman

sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/buku/2010/03/08/brk,20100308-230855,id.html

Comments
  1. dio subadio says:

    atlantis………..?
    menarik

  2. keren jadi inspirasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s